Friday, July 10, 2009

Kembangkan Kecerdasan Berbahasa Anak

Selasa, 7 Juli 2009 | 15:31 WIB

*KOMPAS.com* - Bahasa adalah alat komunikasi manusia di muka bumi ini.
Jadi, betapa penting kemampuan bahasa ini, tak terkecuali bagi anak.
Itulah mengapa, kemampuan bahasa harus sudah diajarkan padanya sejak
dini, khususnya bahasa ibu.

Menurut Edward Andriyanto Soetardhio, M.Psi., dari Fakultas Psikologi
UI, perkembangan bahasa setiap anak intinya sama—bahkan pada anak dengan
bisu dan tuli—hingga tahap /cooing/. Jangan salah, anak bisu tuli pun
akan mengalami tahap /babbling/, hanya saja lebih terlambat daripada
anak normal. Masuk tahap selanjutnya, anak bisu tuli tidak bisa
mengikuti, yaitu berceloteh hingga mampu mengucapkan suku kata yang
menggunakan konsonan dengan kombinasi vokal.

Walau tahap alamiah bahasa akan dilalui anak normal, namun—sekali
lagi—kita tetap mesti memberikan stimulasi agar anak bisa menapaki
jenjang perkembangan bahasanya dengan benar dan sesuai dengan
tahapannya. Nah, berikut ini tip-tip mengembangkan kemampuan/kecerdasa n
bahasa anak berdasarkan tahapan usianya.

*Usia bayi*
1. Ajak bayi untuk banyak berbicara. Aturlah nada bicara Anda supaya
rendah dan lembut, sehingga tidak mengagetkan si kecil. Tatap wajah si
bayi, dan ucapkan kata-kata dengan jelas alias tidak bergumam.
2. Lakukan aktivitas bervariasi untuk merangsang kecerdasan bayi, entah
dengan bermain, bernyanyi, dan sebagainya. Yang harus diingat, dalam
sebuah aktivitas sangat mungkin beberapa kecerdasan ikut terstimulasi.
3. Berikan mainan yang menstimulasi kecerdasannya seperti mainan yang
dapat mengeluarkan suara.
4. Di usia 9 bulan pilihkan juga buku cerita dengan cerita menarik dan
gambar yang besar. Kenalkan juga semua hal yang dilihat bayi di buku
cerita, lakukan secara berulang-ulang sehingga kosakata yang dikenalnya
semakin bertambah.

5. Kenalkan juga anggota tubuh si kecil seperti tangannya, hidung, mata,
dan anggota tubuh lainnya. Bimbing bayi agar mengenali anggota tubuhnya
tersebut. Mulailah dengan anggota tubuh orangtua dulu seperti hidung,
selanjutnya tunjuk juga hidung bayi.
6. Meski belum bisa berbicara, mulai usia sekitar 9 bulanan bayi dapat
melakukan perintah sederhana seperti melempar bola, mengambil mainan
dalam jangkauannya, dan lain-lain.

*Usia batita*
1. Si kecil mulai berbicara dengan menggunakan satu kata atau lebih.
Tetapi saat berbicara suaranya masih cadel. Nah, orangtua harus segera
memberikan stimulasi yang benar yaitu memperbaiki cara berbicara anak
dengan menggunakan bahasa yang dipahami orang lain. Ketika anak berkata,
“Ma… num” (maksudnya, minta minum), segera luruskan, “Oh, Adek mau minum.”
2. Sering-seringlah mengajaknya ngobrol. Semakin banyak waktu yang
digunakan untuk berbicara bersama, akan semakin banyak kosakata anak.
3. Lakukan stimulasi lewat bercerita. Rangsang anak dengan apa yang ada
di buku cerita. “Ini ada gambar binatang berleher panjang dan berkaki
empat, namanya apa ya…? Betul, jerapah.” Dengan cara itu, kosakata anak
ikut bertambah.
4. Berikan instruksi sederhana, “Yuk, kita lipat kertasnya.” Cara ini
selain melatih bahasa, juga mengasah motorik halusnya.
5. Bermain pura-pura atau peran juga dapat dikenalkan, entah bermain
masak-masakan, dokter-dokteran, bertelepon, dan sebagainya.

*Usia prasekolah*
1. Berikan dua perintah sederhana, “Ambil bola dan tendang ke gawang.”
2. Bermain tebak-tebakan, “Binatang yang hidup di air apa, ya?”
3. Minta anak menceritakan pengalamannya di sekolah, namun jangan
sekali-kali memotong cerita anak. Simak dan perhatikan baik-baik apa
yang diceritakan. Bangun suasana gembira saat bercerita.
4. Bila anak berkata tidak jelas, minta dia mengulangi kata itu sehingga
ia dapat mengucapkannya dengan jelas.
5. Ajarkan anak menyanyi. Untuk permulaan, kenalkan dengan lagu pendek
yang sederhana. Bila memungkinkan, iringi dengan musik.
6. Berikan kesempatan kepada anak untuk memilih dan mengambil keputusan,
misal, saat membeli mainan atau buku. Setelah membeli, minta pendapat
anak tentang barang yang baru dibelinya.

*Usia sekolah*
1. Ajari anak mencintai buku. Caranya, ajak anak ke perpustakaan, toko
buku, pameran, dan sebagainya. Dorong anak untuk membeli buku
kesukaannya, lakukan diskusi kecil tentang buku yang baru dibelinya.
Selain kosakata bertambah, lewat buku, kemampuan kognitif anak juga
turut terasah.
2. Minta anak menceritakan pengalamannya di sekolah. Selain bercerita
secara langsung, kemukakan pengalaman itu dalam catatan hariannya.
3. Minta anak membuat puisi, cerita pendek, dan lain-lain.
4. Bila anak terlihat berbakat, jangan ragu untuk memasukkannya ke
kegiatan yang sesuai dan ikut pentas, entah pentas seni (membaca puisi)
di sekolah, ikut komunitas dongeng, belajar menulis, dan lain-lain.

http://perempuan. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/07/ 15315655/ Kembangkan. Kecerdasan. Berbahasa. Anak
Read More..

Thursday, July 9, 2009

Kenali Fesesmu

Feses bukan sekadar kotoran. Sebab, buangan itu menunjukkan kesehatan
tubuh. Maka perhatikanlah kotoran Anda dengan mengamati bentuk dan
tekstur, warna, serta baunya.

*Tekstur*

Normal bila mengandung air 70-80 persen, bentuk seperti pisang atau
durian petruk, dan sedikit berekor atau berupa pasta karena dipaksa
keluar dari suatu tabung pencernaan.

Bergerak ke bawah dengan kecepatan 10 sentimeter per jam. Bila laju
pergerakan tersebut lebih lambat dari itu, air akan terserap terlalu
banyak oleh usus besar dengan hasil feses keras. Keadaan seperti itu
disebut sembelit atau konstipasi.

Feses keras dan kering, berkaitan dengan kesakitan pada saat buang air
besar.

Bila kadar air feses melewati 80 persen, feses akan lunak dan lembek;
kadar air 90 persen jadi feses diare.

*Warna*

Kuning kecokelatan: sifat asam. Saluran usus bersifat asam, menghasilkan
feses kekuningan.

Hijau atau hitam kecokelatan: sifat alkali (basa). Menu yang tinggi
kadar dagingnya merangsang pertumbuhan bakteri pembuat warna feses
gelap. Bila sembelit, saluran usus bersifat basa dan menghasilkan feses
yang berwarna hijau-cokelat.

Putih keabu-abuan: seseorang terserang penyakit jaundice (hati).

Merah darah: kemungkinan terjadi hemorrhoids (wasir).

Hitam seperti tar: menderita kanker kolon, tukak lambung, atau tukak
duodenum.

*Bau*

Asam asetat dan asam butirat: terbentuk terutama dari hasil fermentasi
gula yang terjadi di dalam saluran pencernaan oleh bakteri usus,
menyebabkan feses berbau sedikit asam.

Senyawa indole, skatol, hydrogen sulfide, dan amine: diproduksi dengan
pembusukan protein dalam usus, khususnya oleh bakteri perusak atau
pembusuk. Muncul bau tajam, pedas, dan sangat asam, yang mudah dideteksi
indra hidung karena terjadi fermentasi yang abnormal di usus. Makin
busuk bau feses, makin banyak bakteri jahat dalam usus.

http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2009/07/06/ KSH/mbm.20090706 .KSH130742. id.html
Read More..